“ Wesssss ..... Ono Opo sih Gus ?? Ngantuk iki.. “ tegas jono
“ Luru Mangan yuk ? “ ajak Gus Peng
“ Emang kamu kira ayam ? pake luru
makan ? “
“ Ya Beli Makan deh kalau gitu “ pintanya lagi.
“ emang masih ada yang jualan jam segini ? “
“ Ada , tenang wae , Nasi Gorengnya Pak Jahid di Perempatan Deket Makam
Masih Buka koq” jelasnya.
“ Beliin lo Gus ? resiko ngajak .”
“ Ehhhh Kucing.. Yawes ayo ndang Berangkat “ kata Gus Peng . “ Kalau gak
ngelewatin Makam tadi , gak bakalan deh saya bayarin “ Kata Gus Peng dalam
Hati.
Dengan hati – hati dan deru langkah kaki yang lirih karena takut ketahuan
oleh pengurus, Gus Peng dan Jono pergi untuk membeli nasi goreng di perempatan
makam, bisa gawat jika mereka ketahuan. Karena bagi siapa yang keluar pondok
tanpa ijin akan dikenakan hukuman. Hukumannya juga cukup Unik yakni membaca
Al-Qur’an ba’da Maghrib sampai qobla Isya’ di asrama pondok putri sendirian dan
dilihatin oleh santriwati – santriwati yang lain. Walaupun Gus Peng adalah Anak
dari romo kiyai tapi hukuman tetap saja di laksanakan. Karena tidak ada
perbedaan bagi yang menuntut ilmu di pondok tersebut. Mau dia Anak pejabat , Lurah
, atau camat. Tetap sama.
Jam sudah menunjukkan setngah 4 pagi. Setelah berhasil keluar dari pondok
, mereka langsung bergegas menuju kepenjual Nasi Goreng di Perempatan Makam.
Cukup seram sekali karena sebelum keperempatan itu mereka harus melewati makam
wali . walaupun makam wali tapi di sekitarnya masih ada makam – makam warga –
warga desa. Jadi cukup serem apalagi kalau malam – malam. Karena Gus Peng
Adalah seorang penakut, karena itu dia minta ditemenin sama Jono. Di sepanjang
perjalanan Gus Peng selalu berdzikir. Karena takut terjadi apa – apa.
“ Komat – kamit wae Gus ? baca mantra dari dukun mana ? “ tanya Jono
“ Dzikiran ni jon. Inget ma Pencipta, emange kamu Ingetnya Cuma sama
Riyani anak pondok sebelah ? “ Bantah Gus.e
“ Hallah , Malah bahas ke situ , Bilang aja kamu takut. Makane minta
temenin aku. Wong Cuma makam gini koq takut. Yang udah tidur di tanah itu gak
bakalan bangun lagi gus “ tegasnya.
Bersambung...
Label: Cerpen

Posting Komentar