Bangun pagi merupakan rutinitas harian yang harus ku lalui dalam hari – hariku sebagai seorang Pelajar. karena kedisiplinan merupakan suatu hal yang paling diajarkan oleh kedua orang tuaku sejak kecil. Bukan hanya bangung pagi taipi kedua orang tuaku juga mengajarkan banyak hal tentang kedisiplinan.
Namaku Bian , aku seorang Pelajar di salah satu sekolah menegah atas di London. Di Kota yang penuh dengan orang – orang sibuk yang mondar – mandir entah kemana mengurusi urusan mereka masing – masing dan seakan tak pernah peduli dengan suatu hal lain kecuali pekerjaan mereka.
“Hidup adalah untuk berjuang , berusaha untuk mencapai dan meraih segala impian” . Itulah Kata – kata yang di ajarkan oleh mendiang Ayahku tercinta, Setidaknya itu adalah kata – kata terakhir sebelum beliau meninggalkan dunia ini. Sebuah kecelakaan yang tidak terduga dan disangka – sangka harus memisahkan kami. Memisahkan aku dengan ayahku dari dunia ini. Sebuah kecelakaan yang sangat mengerikan bagi seorang berumuran sepertiku saat itu .
Tepatnya Umurku masih 15 tahun saat Kejadian itu berlangsung. Kejadian yang terjadi di depan mata saat kami  bersama satu keluarga ingin berlibur ke pantai dengan menggunakan mobil baru dari ayah . mobil yang beliau beli dengan keringat dan usaha sendiri.
“ dad.. yang ini tombol apa ? “ kataku kepada ayah sambil menunjuk kearah tombol klakson karena kebtulan aku duduk paling depan bersama dengan ayah.
“ jangan sentuh, dan kenakan sabuk pengamanmu bian “ kata ayah menasehatiku karena hendak menekan klakson mobil itu dan juga karena melepas sabuk pengaman.
Aku tidak peduli dengan omongan dan perkataan ayahku saat itu dan terus saja aku berusaha menekan tombol itu dan ayahku terus berusaha mengahalangi karena rasa penasaran jadi kuteruskan tanpa menghiraukan ayah
Hingga kejadian itupun terjadi menimpa kami. Sebuah Truk Kontener berukuran cukup besar tiba – tiba berhenti mendadak di depan mobil kami dan ayah tak sempat menginjak rem karena kaget. Sehingga Mobilpun menabrak bagian mobil belakang kontener sampai mobil kami rusak dibagian depan. Aku terlenpar ke kursi belakang bersama ibu dan kakak perempuanku.setelah itu semua terasa gelap dan akupun tak sadarkan diri.
Perlahan kubuka mata. “Dimana Aku ? dimana ? Ibuu ... ayaaah... “ kataku menjerit diatas ranjang kasur dan empuk serta di kelilingi tembok yang begitu putih. Tiba – tiba terlihat sesosok pria berjas putih bersama seorang wanita yang ternyata mereka adalah seorang dokter di rumah sakit.
“ Saya dimana ? kenapa saya disini  ibu mana ? ayah mana ? “ tanyaku
“ Maaf kamu banyak – banyak saja dulu beristirahat karena kondisimu belum terlalu pulih “jelas Dokter Berkacamata itu yang ternyata bernama dokter smith yang terlihat jelas dari cocard yang ia kenakan
“ Ayah ? Ibu ? kakak ? “
“ Ibu dan Kakakmu sedang dirawat diruang sebelah mereka selamat dari kecelakaan itu “. Katanya sambil memegang tanganku.
“ Ayaah ?? ayah mana ? “
“ Maaf Untuk beliau ya nak, ayahmu sudah pergi meninggalkan kita semua selamanya ”. ucap dokter smith lirih.
Akupun terkulai lemas tidak berdaya setelah mendengar perkataan dokter dan tak bisa berucap apa – apa.

******

            Dua Tahun Berlalu sejak kejadian yang membuatku terus merasa bersalah. “ kalau bukan karenaku berbuat hal itu tak akan terjadi kejadian seperti ini “ ucapku dalam hati sambil menyalahkan diriku yang bodoh ini.
            “ Bian... ! Come On.. you must go to school now. The bus has waited “. Teriak ibuku dari dapur dilantai satu.
            “ Yes Maam “ . Tersentak ku kaget mendengar teriakan dari ibuku yang begitu kencang menggema keseluruh ruangan sehingga membuyarkan lamunan masa laluku di depan jendela kamarku yang berada di latai dua.
            Ibuku tidak pernah menyalahkanku akan suatu hal yang telah terjadi yang menimpa ayahku “ Itu merupakan sebuah takdir yang sudah di tulis, dan kita harus bisa menerimanya” begitulah kata ibuku setiapa kali aku menanyakan apakah ibu membenciku karena kejadian itu ?. Lain halnya dengan kakak perempuanku Melissa. Sebelum kejadian itu dia adalah seorang gadis yang penuh dengan kegembiraan dan keceriaan. Tapi setelah kejadian itu dia berubah lebih menjadi seorang pendiam dan tertutup. Dan setiap bertemu denganku selalu saja memalingkan wajah dan selalu saja menyalah – nyalahkanku . aku tahu Melissa merupakan anak Ayah . anak yang paling dekat dengan ayah dibandingkan denganku. Tapi haruskah sikapnya seperti itu ?
            “ take a breakfast son “
            “ Gak bu , aku langsung saja nanti kalau sarapan dulu takut telat, biarlah aku sarapan di sekolah “ kataku kepada ibu
            “ Biarkan saja bu ! biar dia gak usah makan “ ucap melissa sinis
            Alasanku tidak ingin sarapan pagi itu bukanlah karena takut telat tapi karena keberadaan kakak perempuanku di meja makan. Aku lebih memilih tidak sarapan daripada harus bertengkar dengannya membahas tentang Ayah. Karena tak akan ada selesainya dan aku jugalah yang akan selalu menjadi sasaran. Aku sadar kecelakaan itu merupakan kesalahanku. Aku memang pantas diperlakukan seperi itu oleh kakak perempuanku sendiri.
            Sambil melamun menatap keluar jendela Bus sekolah terlihat jalan raya kota london yang begitu padat dengan halu – lalang pejalan kaki, tiba – tiba
            “ Haaaaaaaiiiii !!! “ teriak Sam mengagetkaku yang sedang melamun memikirkan kakak perempuanku.
            “ Haaahh kamu bikin kaget saja , untung jantungku sudah ku beri lem biar gak copotsaat kamu kagetin “ kataku sambil menepuk pundak sam dengan keras.
            “ menghayal di pagi buta.... mana ada jantung di Lem ? emang aku anak Berusia 7 tahun yang bisa kamu bodohi ? “ kata sam
            “ hahahahahahahaha “ kamipun tertawa lepas sebebas – bebasnya didalam keramaian bis sekolah sehingga kami mendapat teguran dari teman – teman yang lain.
            “ Gimana liburan musim panasmu ? “ tanya ku kepada sam
            “ Enjooyy dan seru sekali , aku sekeluarga pergi ke Hawai , ke sebuah pantai yang sangat indah dengan eksotisme lautnya. Lihat aja kulitku sampai hitam gini. Hahahaa “ jawab sam sambil menunjuk ke arah tangan dan wajahnya yang hitam karena berjemur di pantai. “ Kalau kamu sendiri ? “ tanya sam balik.
            “ Tak ada Yang Istimewa hanya duduk di kamar sambil melamunkan kesalahanku di masa lalu “ tertunduk sedih
            “ jangan difikirkan terus hal itu, hanya kesedihan dan perasaan bersalahlah yang akan kau rasakan “ kata sam  menasehatiku. “ Inikan kelas Musim Semi pertama Kita setelah liburan panjang dimusim panas, bagaimana kalau kita pergi ke taman kota kita lihat tumbuh – tumbuhan hijau yang akan tumbuh di musim semi ini. Bunga – bunga yang berlomba – lomba mekar dengan dihiasi  warna pelangi “ ajak sam dengan gaya sok Puitisnya.
            “ Okey, setelah pulang sekolah langsung kesana ya ? ketemu di depan sekolah setelah selesai sekolah “ kataku bersemngat.
            Sam adalah sahabatku  dari kecil kami adalah sahabat bangku bis sekolah. Begitulah teman – teman menjuluki kami. Setiapa berangkat sekolah pasti kami selalu duduk berdua di tempat yang sama. Kebiasaan ini sudah sejak aku mengenalnya di Sekolah Tingkat pertama. Baru pertama kenal aku langsung bisa akrab dengan Sam.
“trrrrrrrreeeng trrrrrreengg “ bunyi bel terdengar dengan jelas dan begitu keras menadakan selesainya waktu belajar pada hari itu.
            Sam yang berbeda kelas denganku sudah berada duluan di depan sekolah karena memang jarak kelasnya lebih dekat yakni berada di lantai dua. Sedangkan kelasku berada di lantai 4 serta jauh dengan tangga .
            Berlari adalah satu – satunya hal yang bisa ku lakukan agar tidak telat pergi ketaman. Memang ini adalah hal sepele. Tapi kebiasaan disiplin yang diajarkan orang tuaku sehingga membuatku harus selalu on time dalam segala hal.
            “ aku tidak telat kan ? “ kataku kepada sam sambil mengusap keringat karena berlari dari lantai 4 sampai ke arah depan sekolah.
            “ No . ! malah kecepetan datangnya “ jawabnya
            “ hahahaha “ sambil tersenyum lebar
            “ Ini dia yang selalu membuatku iri terhadapmu, kamu selalu on time dalam hal apapun, hal sepelepun tetep on time. Siapa yang ajarin kamu ?
            “ Ayahku “ jawabku lirih
            “ Sorry , Sorry , aku tak bermaksut apa – apa , maafkan aku “ ucap Sam
            Akupun hanya terdiam memikirkan ayahku yang telah tiada di dunia ini. Dulu beliau selalu mengajarkanku untuk selalu berdisiplin dalam segala hal. “Disiplin itu bukan hanya di sekolah dan di waktu – waktu penting, disiplin itu setiap saat” kata ayahku saat masih hidup dulu .
            “ Heyyy sudahlah .. ayo kita pergi ketaman , di Musim Semi yang sangat indah ini pasti tumbuh – tumbuhan cantik sudah menunggu kedatangan kita sambil menari disana. “ kata sam dan menyadarkanku lagi dari lamunan. Entah mengapa Akhir – akhir ini aku sering sekali melamun. Terutama melamunkan tentang ayahku dan sikap kakak perempuanku.
            Perjalanan menuju taman kami tempuh dengan jalan kaki. Karena lokasi taman sangat dekat dengan sekolah kami. Sepanjang perjalanan terlihat daun daun hijau yang mulai muncul dari pohon – pohon yang awalnya gundul, karena berguguran pada musim sebelumnya, bunga – bunga mulai bermekaran di sepanjang sudut jalan – jalan , bahkan bunga – bunga liarpun sudah mulai tumbuh.
            Tibalah kami di sebuah taman yang sangata indah nan Asri, taman yang begitu luas serta penuh dengan tumbuhan – tumbuhan hijau. Terasa suasana alam yang baru lahir kembali. Rerumputan bermunculan menunjukkan nuansa lapangan hijau sejuk akan udara alam di Taman kota, serta bunga – bunga indah penuh warna yang menyelingi di rerumputan.
            Keberjalan selangkah demi selangkah mengelilingi taman, hingga terlihat sebuah bangku kecil panjang berwarna putih dibawah pohon besar yang daun – daunnya sedang bersemi. Terlihat disana seorang anak kecil yang kira – kira berumung 9 tahun tengah duduk bersama ayahnya seraya melemparkan – lemparkan biji kepada burung – burung merpati di sana.
            Dihamparan taman kota yang sangat luas, kuberbaring diatas rerumputan hijau sambil menatap kearah lagit indah dan biru. Seperti biasa ku melamun kerah awan – awan itu seraya membayangkan sosok keluargaku 2 tahun lalu.
            “ Melamun saja ! “ kata Sam mengagetkanku untuk kesekian kalinya.
            “ Iyaa nih kok aku melamun terus ya ? “ kataku kepada sam. Kalau  difikir – fikir mengapa diriku belum bisa lepas dari bayang – bayang kesalahan.
            “ Kau lihat Pohon disana “ tanya Sam sambil duduk dan menunjuk kearah pohon besar ditaman. “ Pohon itu besar dan aku kagum dengan pohon itu , kau tahu kenapa ian ? “ tanyanya lagi.”
            “ Ada apa dengan pohon besar tapi Gundul Itu ? “ jawabku.
            “ Pohon Itu memang Gundul tapi tak kau lihatkah dia dari arah lain ? pohon itu besar kuat kokoh dan tak akan goyah menghadapi segala sesuatu ! Entah sudah berapa kali pohon itu mengalami hal – hal buruk dalam hidupnya, tapi masih saja terus berdiri disana sendirian tanpa ada yang menemani “ jelas Sam.
            “ Tapi kalau gundul gitu tak ada artinya pohon itu “
            “ Maksudmu tak Berdaun , hai ian ! lihatlah kebelakang pelajari apa yang terjadi terhadap pohon. Dia memang tak berdaun sekarang , daunnya hilang dan harus berguguran di musim sebelumnya. Tapi dia tidak pernah mengeluh dan terus saja berdiri disana menanti dan selalu menanti dan menunggu – nunggu datangnya musim semi untuk menumbuhkan kembali daun – daun yang telah hilang “ jelas Sam dengan Tenang
            Kuhanya terdiam mendengar kata – kata Sam yang memang ada benarnya. Terkadang dalam kata – katanya yang sok tahu itu tersirat makna yang begitu dalam. Penjelasan Sam tadi sungguh membuatku berfikir dan berfikir tentang masalah yang selalu terbayang jelas di benakku. Kesalah yang sangat begitu besar.
            “ Pohon Saja Bisa ! Mengapa aku tak bisa ? “ kataku lirih. “ Pohon Gundul itu sudah berkali – kali mendapatkan cobaan, bahkan setiap tahun harus kehilangan daun yang sangat berarti. Tapi pohon masih terus sabar tanpa pernah mengeluh “ fikirku dalam hati
            “ hai Ian !! “ teriak sam keras tepat ditelingaku.
            “ Hah ada apa ? “ kaget
            “ Kau tau ian ? setiap musim semi seperti ini kekaguman dan ketakjubkanku akan pohon yang kau katakn gundul tadi sangat besar dan bertambah, kau tahu kenapa ? pohon itu bisa merubah dirinya menjadi baru kembali dari daun – daun yang akan segera bermunculan di sekitarnya. Setelah mendapatkan daunnya dia tak pernah lagi mengingat – ingat masa lalunya saat daun – daunnya hilang satu persatu. Pohon itu selalu membawa suatu hal yang baru setiap tahunnya tanpa peduli masa lalunya “ jelas Sam Lagi
            Entah apa yang kufikirkan selama ini dalam hari hariku yang kelam ini. Tak pernah terlintas sedikitpun diriku untuk mencoba berubah kedepan dan meninggalkan bayang – bayang masa laluku yang tanpa terasa telah menghalangiku untuk melangkah kedepan. Sontak kuteringat kata – kata ayah yang selalu di ucapkan kepadaku serta kepada kakak perempuanku melissa.

“Hidup adalah untuk berjuang , berusaha untuk mencapai dan meraih segala impian”

            Setelah kejadian itu aku sudah lupa dengan perkataan ayah untuk terus berusaha dalam menggapai impian. Akal dan fikiranku rasanya tertutup oleh bayang kelam di masa lalu. Dan Sam lah yang telah menyadarkanku dengan teori kekagumannya dengan pohon di musim semi. Entah apa yang difikirkan Sam dalam otaknya sehingga bisa memunculkan kata – kata seperti itu. Terfikir olehku “ Apakah Sam Cuma berteori ? Ataukah dia faham akan masalah – masalah yang selalu membuatku melamun dan terdiam setiap saat ? “. Aku rasa Sam adalah sahabat yang benar – benar mengerti keadaanku. Aku bangga punya sahabat sepeti Sam, Selalu setia menemani sahabatnya dalam keadaan apapun.
            “ Terima Kasih Ya Sam !! “ kataku seraya berdiri dan berlari keluar taman.
            “ Hai mau kemana ? aneh tiba – tiba berdiri dan berterima kasih tidak jelas “ kata sam lirih. “ Aku Belum Selesai cerita nih ! “ teriak sam.
            “ Kita Lanjutkan disekolah besok ! sekali lagi terima Kasih “ kataku sambil meninggalkannya dan terus berlari ke Rumah.
            Sesampainya dirumah dengan nafas terengah – engah ku cari kakak perempuanku dan kupeluk dia seraya berkata “ Maafkan aku kak ! aku tahu kau pasti tidak akan pernah memaafkanku, tapi aku tidak akan pernah membencimu walalupun kau tidak memaafkanku “. Melissa hanya terdiam tanpa mengucap apa – apa. Kemudian kucari Ibuku , kupeluk dan seraya berkata “ Terima kasih Ibu ! aku sayang Padamu “.
            “ Ada apa ini Ian ? kok kamu tiba – tiba seperti anak kecil begini ? tanya ibuku.
            “ Tak Apa Bu ! Aku Hanya Ingin Menjadi Pohon Besar di Taman “ .jawabku kepada ibu yang tak pernah membenciku karena kecelakaan itu. “ Ibuku sudah lebih dahulu menjadi pohon di Bandingkan aku “
            “ Sudah – sudah , Ibu mau masak ini “ kata ibuku sambil melepaskan pelukannya dariku.
            “ Maaf Bu , aku boleh tanya sesuatu ? “
            “ Tanya Apa ? langsung saja “
            “ Pemakaman Ayah Berada dimana ya ? “ meskipun dua tahun sudah kepergian ayahku tapi aku tak pernah sekalipun tahu dimana pemakamannya, karena aku terlalu takut dan terlalu merasa bersalah sehingga tak berani untuk mendatangi makamnya walau satu kalipun.
            “ 3 Block dari sini ada jalan masuk berbatu dan bergerbang besar. Carilah nama ayahmu disana “ sambil memakai celemek dan menuju kearah dapur.
            Ku Kayuh kencang – sekencangnya sepedaku seraya menghitu berapa block yang sudah kulewti. Tanpa menghiraukan lalu lintas terus saja ku kayuh sepedaku di sepannjang pinggiran jalan kota london. Ku berhenti dan melihat sebuah jalan berbatu yang berkelok  - kelok, kutelusuri sepanjang jalan berbatu itu dan menemukan Sebuah gerbang pemakaman kota.
            Lansung saja ku sandarkan sepedaku di  pinggiran jalan berbatu. Kulihat di pintu gerbang terdapat seorang penjual bunga. Kuahmpiri dan kubeli seikat bunga untuk Ayahku.
            Kubertanya kesana kemari kepada penjaga makam dimanakah letak makam ayahku dikebumikan. Setelah sekian jam mencari akhirnya kutemukan juga berada tepat di bawah pohon tidak terawat, langsung saja kubersihkan batu nisan ayahku dari debu tebal.
            “ Ayah ! Maafkanlah anakmu yang bodoh ini, yang tidak pernah menuruti kata – katamu. Bahkan sebelum meninggalpun aku masih saja tidak menuruti kata – katamu. Aku sungguh menyesal. Selama ini aku selalu digentayangi oleh perasaan bersalah terhadapmu. Aku sunggu minta maaf akan hal itu, dan sekali lagi aku minta maaf karena menjadikanmu sebagai penghalangku meraih impian padahal ini bertentangan dengan apa yang pernah kau ajarkan kepadaku dan kepada kak melissa dulu, karena tidak lain aku terlalu merasa bersalah, aku tidak akan pernah bosan untuk minta maaf kepadamu yah ! maaf lagi aku baru menjengukmu, aku berjanji kepadamu untuk tidak akan berlarut – larut dalam mengahadpi hal seperti ini. “ Ucapku di depan makam ayah sambil menagis haru . serta kuletakkan bunga tepat di depn batu nisan mendiang ayahku, seraya berbalik meninggalkan makam dengan harapan baru.